my Guo

Mei 19, 2008

Belajar java dengan target SCJP

Diarsipkan di bawah: Bhoso Java — guoblog @ 7:52 am

naruto

Saya kadang merasa bingung ketika akan belajar bahasa pemrograman. saking bingungnya saya memilah2 apa maksud saya belajar pemrograman. Hal ini penting sekali bagi saya karena untuk memulai pekerjaan, saya harus yakin apa yang akan saya kerjakan. Dengan keyakinan itu saya harap semangat saya tidak akan luntur sampai berhasil.

Pertamakali yang saya cari ketika akan belajar pemprogramana adalah tujuan belajar bahasa pemrograman. Saya pikir kalau sudah mencari tujuan belajar bahasa pemprograman seharusnya ada dua langkah yang sudah dilakukan yaitu: apa pemrograman yang dipelajari, dan untuk siapa. Yang kedua adalah Bagaimana cara mempelajarinya. Kalau bagaimana berarti mengacu pada caranya. Cara akan berkaitan dengan dimana saya akan mendapatkannya dan kapan. Semua ini saya ambil dari 5w1h(where, when, why, whom, what dan how).

Setelah saya cari tau, saya mempunyai tujuan (why). Kalo belajar bahasa java, saya harus minimal bisa membuktikan kemampuan saya. Bukti itu bisa berupa sertifikat. Secara internasional sertifikat yang paling bergengsi di dunia java adalah SCJP. Pemprograman yang dipilih (what) jelas java, untuk (whom) saya gunakan dalam mempermudah pekerjaan.

Belajar java banyak berhasil bila ditempuh dengan praktek. Buku yang saya nilai paling cocok adalah Java 2™ Programmer Exam Cram™ 2. Buku ini langsung bertujuan untuk mendapatkan sertifikat java, sehingga saya memilihnya sebagai penuntun belajar (how). Setiap percobaan akan saya masukkan sebagai catatan di blog ini (where) sehingga kalau ada masukan dari pembaca bisa langsung ditanggapi. Setiap hari akan saya coba lalui satu persatu agar target tahun depan saya sudah mahir java tingkat dasar (when).

Begitulah kira2 yang akan saya lakukan untuk mempelajari java. Moga2 dengan doa teman2 juga, kita bisa meningkatkan kualitas SDM minimal diri kita. (kalau bisa bangsa)

best regard

ai

Adoh yang mana dulu nih..

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — guoblog @ 4:39 am

frustasi bule cow

Wadoh, ada banyak banget ternyata yang kudu kita tau. Satu dikejar bakalan yang laen ketinggalan. Hayo, mo pilih yang mana: keluarga, masa depan, pekerjaan or bisnis?

Setiap pertanyaan bakal ada jawabannya sendiri. Tergantung bagaimana kita ngadepinnya.

Sekarang ilustrasi dibagian software ajah ada banyak hal yang kudu dikuasai. User Interface, Bahasa pemprograman, jaringan, pengujian, Engineering, sampe ke dalem2annya.

Kesimpulan umum: gak bisa semua dikerjain sendirian perlu segmentasi / pembagian bidang kerja. Gak mungkin bisa dikuasai semua. Kecuali kalau punya waktu yang banyak n otak yang mumpuni.

Saran: Jia You (chayo), ato SEMANGAAAAAAT….

Lets go Indonesia….IGOS

Diarsipkan di bawah: e-style — guoblog @ 4:24 am

IGOS

Indonesia melalui RISTEK mengeluarkan distro linux dengan nama IGOS. Bagi anda yang ingin mengetahui lebih lanjut bisa anda lihat di website www.igos.web.id . Begitu dibuka anda akan mendapat kata-kata yang menggugah semangat anda. Berikut ini dua paragraf yang menarik…

Open Source Software, bukan sekedar produk yang dapat menggantikan software-software mahal, tetapi lebih pada terbukanya peluang berinovasi dengan kode-kode yang terbuka untuk dikembangkan menjadi berbagai aplikasi lainnya. Ini yang membedakan dengan software proprietari yang dijual dengan harga puluhan hingga ribuan dolar AS.(Sumber: Kusmayanto Kadiman)

Hal penting dari migrasi ke Open Source Software adalah perlunya meninggalkan software ilegal menuju software yang legal. Jadi yang penting yakinkan bahwa Open Source Software itu adalah pilihan cerdas. (Sumber: Cahyana Ahmadjayadi)

Ya isu legalitas software di Indonesia merupakan salah satu yang perlu diwaspadai beberapa tahun yang akan datang. Kebanyakan software yang digunakan masyarakat Indonesia tidak berlisensi atau kata lainnya bajakan. Saat ini masih belum ada razia yang bisa menangkap pelaku-pelakunya tetapi suatu saat bisa terjadi pengguna barang bajakan terciduk pula. Undang-undang HAKI telah melindunginya, jadi mau tidak mau masyarakat harus mulai merubah pola pikir software bajakan dengan software gratis.

Software gratis kebanyakan didapat dari proyek-proyek opensource. Proyek yang demikian biasanya dilindungi dengan lisensi GPL. Yang gak pake lama lah.. Memang pemakainya masih perlu “belajar” cara memakainya karena barang ini termasuk baru. Namun, tidak perlu dikhawatirkan sebab masyarakat IT Indonesia sangat hobi mengotak-atik. (tidak tahan melihat desktop yang standar). Mereka cukup mengalihkan cara pandang menggunakan software bajakan yang biasanya dimanjakan dengan cara kerja perusahaan dengan cara kerja kita sendiri.

Takperlu sedih dengan perubahan, takperlu takut dengan ketidakpastian, tapi usaha yang nyata akan membuat hidup menjadi lebih mudah. Tidak disadari dengan mendukung program pemerintah mengembangkan opensource project akan ikut membantu melepaskan bangsa dari keharusan membayar upeti pada perusahaan asing.

Budaya libur Kecepit

Diarsipkan di bawah: Gelitik-gelitik — guoblog @ 3:49 am

Budaya Kerja

Adalah sikap dan perilaku individu dan kelompok aparatur negara yang didasari atas nilai-nilai yang diyakini kebenarannya dan telah menjadi sifat serta kebiasaan dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan sehari-hari.

Budaya kerja diharapkan bermanfaat bagi pribadi aparat negara maupun unit kerjanya, di mana secara pribadi memberi kesempatan berperan, berprestasi dan aktualisasi diri, dan dalam kelompok bisa meningkatkan kualitas kinerja kelompok. Sasaran yanag ingin dicapai dalam penerapan dan pengembangan budaya kerja adalah bertumbuhkembangnya nilai-nilai moral dan budaya kerja produktif aparat negara, meningkatnya persepsi, pola pikir, pola sikap, pola tindak, dan perilaku aparat negara sehingga terhindar dari perbuatan KKN, meningkatnya kinerja aparat negara, dan terbentuknya citra aparat negara dan kepercayaan masyarakat (trust).

Terdapat 17 (tujuhbelas) pasang nilai-nilai dasar budaya kerja aparat negara(Kepmenpan Nomor 25 Tahun 2002), yaitu (1) komitrnen dan konsistensi; (2) wewenang dan tanggungiawab; (3) keikhlasan dan kejujuran; (4) integritas dan profesionalisme; (5) kreativitas dan kepekaan; (6) kepemimpinan dan keteladanan; (7) kebersaman dan dinamika kelompok kerja; ( 8) ketepatan dan kecepatan; (9) rasionalitas dan kecerdasan emosi; (10) keteguhan dan ketegasan; (11) disiplin dan keteraturan bekerja; (12) keberanian dan kearifan; (13) dedikasi dan loyalitas; (14) semangat dan motivasi; (15) ketekunan dan kesabaran; (16) keadilan dan keterbukaan; dan (17) penguasaan ilmu pengetahuan serta penguasaan dan pengembangan teknologi.(habibie centre)

Nilai-nilai budaya kerja pada prinsipnya terbagi menjadi lima kelompok besar meliputi (hambatan budaya kerja organisasi) :

1).Nilai-Nilai Sosial , yang terdiri dari Nilai Kemanusiaan, Keamanan, Kenyamanan, Persamaan, Keselarasan, Efisiensi, Kepraktisan;

2) Nilai-Nilai Demokratik , yang terdiri dari Kepentingan Individu, Kepatuhan, Aktualisasi Diri, Hak-Hak Minoritas, Kebebasan/Kemerdekaan, Ketepatan, Peningkatan;

3) Nilai-Nilai Birokratik, yang meliputi Kemampuan Teknik, Spesialisasi, Tujuan Yg Ditentukan, Lugas Dalam Tindakan, Rasional, Stabilitas, Tugas Terstruktur;

4) Nilai-Nilai Profesional, termasuk Keahlian, Wewenang Memutuskan, Penolakan Kepentinan Pribadi, Pengakuan Masyarakat, Komitmen Kerja, Kewajiban Sosial, Pengaturan Sendiri, Manfaat Bagi Pelanggan, Disiplin;

5) Nilai-Nilai Ekonomik, yaitu Rasional, Ilmiah, Efisiensi, Nilai Terukur dg Materi, Campur Tangan Minimal, Tergantung Kekuatan Pasar.

Saya komentar sedikit nih…

AAHH TEORI!!!!

Kenyataannya PNS telah memperoleh predikat yang buruk dimata masyarakat. Mau tidak mau pandangan ini telah menjadi “trademark” atau merek dagang instansi yang sering kita kenal dengan pemerintah. Satu contoh kecil yang bisa kita ambil adalah “libur kecepit”.

Libur kecepit tanggal 20 mei (200 8) bulan ini menurut sebagian pegawai termasuk hari “tanggung” sebab hari senin harus masuk kerja. Dilihat dari sisi manapun baik dari sisi profesionalisme, disiplin, moral dan etika hal tersebut termasuk sebagai bagian dari pelanggaran.

Sebagai ilustrasi, seorang teman (tdk sy sebutkan) mengatakan suatu kantor pemerintah tidak dihadiri lebih dari 50%. Jalanan kota menjadi lebih senggang.

Meskipun saya sendiri pernah mendapatkan pelajaran dinamika pekerjaan. Tetapi meninggalkan kewajiban apalagi mengkorupsi waktu bagi saya sudah diluar toleransi. Instansi tempat saya berkerja memang lebih “disiplin” karena tidak terjadi pemikiran seperti itu. Imbasnya tetap saja menerpa instansi kita.

Sekarang coba anda bayangkan. Waktu saja dikorupsi apalagi yang lebih menggiurkan lagi seperti insentif, fasilitas, kedudukan dan apalah yang bisa anda bayangkan sendiri.

Sekarang yang bisa dilakukan adalah mengkritik. Bagaimanapun kritikan akan menjadi feedback atau umpan balik untuk memperbaiki kondisi ini. (kalo menurut saya ini mah karena tak mampu, tapi lebih baik kritik daripada curang..) tidak sedikit yang bungkam karena ketidakmampuannya. Tetapi kritikan tetap akan menggelitik sampai kelitikan itu bisa membuat tertawa kita semua.

Gila aja…

Blog pada WordPress.com.