This is my cave (guo)

Agustus 12, 2009

Pengalaman Instalasi Ubuntu 7.10 Gutsy Gibbon Pada Laptop (bagian 1)

Diarsipkan di bawah: e-style — abas @ 6:37 am

Setelah menunggu selama beberapa minggu, akhirnya Ubuntu 7.10 dengan nama sandi Gutsy Gibbon dirilis pada hari Kamis, 18 Oktober 2007. Seminggu sebelum perilisan Gutsy, saya sudah melakukan pemesanan CD lewat ShipIt. CD yang saya pesan itu sudah disetujui oleh Canonical dan telah dikirim pada tanggal 16 Oktober lalu dengan masa pengiriman antara 2 – 4 minggu.

Penasaran dengan fitur baru yang terdapat pada Gutsy (terutama Compiz Fusion-nya yang telah terintegrasi ^^), saya langsung mengunduh arsip image CD versi Desktop-nya, baik yang i386 (32-bit) maupun AMD64 (64-bit) di kampus saya. Proses pengunduhan ini sendiri tidak berjalan dengan lancar. Pada awalnya, saya mengunduh dari tempat unduh resminya, yaitu di http://releases.ubuntu.com, tetapi ternyata server tersebut cukup “sibuk” dalam melayani permintaan unduh dari klien yang lain. Akhirnya saya mencoba menggunakan server mirror lokal, yaitu http://kambing.ui.edu, dan ternyata saya mendapatkan kecepatan unduh yang cukup bagus dari server tersebut.

Selesai dengan proses pengunduhan, saya langsung membakar arsip image tersebut ke dalam CD menggunakan laptop VAIO VGN-SZ430N yang baru saya beli 3 minggu sebelumnya ^^. Proses bakar selesai, saya lalu melakukan restart.

Pada layar awal setelah booting dari CD, saya terlebih dahulu memilih menu “Check CD Content” (atau menu semacam itulah … saya lupa ^^;). Proses pengecekan integritas CD ini penting untuk menghindari kegagalan pada instalasi Ubuntu nantinya. Setelah menunggu selama kurang lebih 7 menit, Ubuntu memberitahukan bahwa CD yang saya gunakan sudah cukup baik. Setelah itu, Ubuntu meminta untuk melakukan restart.

Setelah restart, saya memilih menu “Start Live CD” pada menu booting dari CD ini. Setelah masuk ke dalam tampilan Live CD-nya, saya langsung mengklik 2 kali pada icon “Install”. Sama seperti Feisty, pertama kali saya harus menentukan lokasi saya terlebih dahulu untuk menyesuaikan zona waktu. Saya pilih “Jakarta”. Pada layar berikutnya (pemilihan model keyboard), saya langsung mengklik “Next”.

Pada layar dialog tentang Partisi, saya pilih “Manual”, karena saya sudah mengalokasikan sebuah partisi kosong (30 GB) untuk Ubuntu 7.10 ini. Saya klik pada “free space”, lalu saya klik “New Partition”. Saya pilih “Logical”, lalu saya ganti “ext3? menjadi “swap”, karena saya berencana untuk membuat partisi “swap” terlebih dahulu. Untuk ukuran partisi, saya memasukkan “2048? (2 GB).
Selesai dengan partisi swap, saya membuat partisi baru pada partisi yang tersisa. Saya pilih “Primary” (agar bisa di-booting) dan “ext3?. Untuk Mount Point, saya masukkan “/” (tanda garis miring) sebagai penanda bahwa partisi tersebut adalah yang partisi “root” (utama).

Setelah itu saya klik “Next”, dan masuk ke layar dialog migrasi yang menampilkan seluruh akun saya pada Windows XP. Saya memutuskan untuk tidak mengimpor apapun dari akun saya tersebut, jadi saya langsung mengklik “Next”. Pada layar berikutnya, saya memasukkan Username dan Password saya, lalu saya klik “Next”. Setelah layar konfirmasi instalasi tampil, saya klik “Next” lagi. Proses instalasi dimulai ^^.

Pada saat progress bar mencapai angka 85%, sebuah pesan kesalahan muncul. Isinya kira-kira adalah: “Tidak dapat melakukan update keamanan”. Saya menduga pesan kesalahan ini ditampilkan karena Ubuntu tidak dapat melakukan update karena tidak ada koneksi internet. Setelah saya mengklik “OK”, proses instalasi dilanjutkan.

Setelah proses instalasi selesai, Ubuntu menanyakan apakah kita ingin langsung melakukan restart atau tetap menggunakan Live CD untuk saat ini. Saya pilih “Restart”. Setelah itu, Ubuntu meminta untuk mengeluarkan CD, agar nantinya sistem tidak melakukan booting dari CD lagi.

Sistem lalu menampilkan layar pemilihan sistem operasi dengan GRUB. Di situ juga tampil sistem operasi Windows XP yang telah terinstalasi sebelumnya. Saya langsung memilih pilihan pertama. Kesan pertama setelah Ubuntu berhasil di-booting adalah …. Brightness dan Constrast yang ditampilkan Ubuntu tinggi sekali. Resolusi layar yang ditampilkan pun tidak widescreen. Bagaimana solusinya? –bersambung ke bagian 2–

DTMF

Diarsipkan di bawah: Projects — Tag: — abas @ 6:36 am

Pendahuluan
DTMF aslinya dikembangkan untuk membantu mengirimkan informasi kontrol (nomor yang ditekan) melalui jaringan telepon. Jaringan telepon memiliki bandwidth antara 300 hingga 3400 Hz, mencukupi untuk komunikasi suara. Setiap tone kontrol juga harus didalam kisaran bandwidth tersebut dan harus berkerja baik ketika ada suara atau tidak. Sebuah tone atau frekuensi dapat telah digunakan. Bagaimanapun, jiak suara ada, suara tersebut dapat menginterferensi suara tone, menyebabkan tone tersebut tidak berguna.

Isi
Disini adalah isi artikel
Untuk menyelesaikannya sebuah skema dikembangkan menggunakan dua buah frekuensi dikombinasikan untuk merepresentasikan setiap kode kontrol atau nomor. Total terdapat tujuh tone diperlukan untuk merepresentasikan digit yang secara normal ditemukan pada sebuah keypad telepon, sebutlah 0-9, * dan #. Tone kedelapan ditambahkan sehingga bisa menampung tombol ekstra untuk digunakan. Biasanya tombol tersebut disebut dengan ABCD. Kedelapan tone tersebut dibagi menjadi dua grup, masing-masing 4 frekuensi, frekuensi rendah dan frekuensi tinggi. Matriks empat dengan empat frekuensi tersebut menghasilkan 16 kombinasi yang berbeda, seperti yang ditunjukkan pada table berikut.

Hz
1209
1336
1477
1633
697
1
2
3
A
770
4
5
6
B
852
7
8
9
C
941
*
0
#
D

Tabel DTMF untuk setiap kelompok frekuensi (rendah dan tinggi)

Mengapa dipilih beberapa frekuensi tersebut? Bukan sembarang frekuensi misal kelipatan dari 500 Hz? Jawabannya adalah frekuensi harmonik yang dibangkitkan berkaitan dengan sirkuit nonlinear pada sistem telepon. Jika dilihat pada kelompok frekuensi rendah, anda akan melihat bahwa harmonik kedua (kelipatan dari dua) berada diantara tone kelompok frekuensi tinggi. Frekuensi harmonik ketiga, dan selanjutnya berada diluar jangkauan tone frekuensi tinggi sehingga tidak menjadi masalah.
Tone yang valid harus memenuhi syarat sebagai berikut:
” Hanya ada satu tone yang dipilih pada setiap grup
” Setiap tone harus dimulai setelah 5 ms
” Kedua tone harus ada selama 40 ms
” Setiap tone harus berada pada 2% pada frekuensi tengah
” Tingkat tone harus diantara 6 dB masing-masing
Semua hal tersebut membuat setiap tone unik sehingga suara yang dibangkitkan merupakan tone DTMF yang valid. Hal ini berarti bahwa DTMF sekarang digunakan lebih dari sekedar mengirimkan nomor yang ditekan melalui jaringan telepon.

Agustus 3, 2009

akses mysql pake command prompt

Diarsipkan di bawah: Lecture notes, Projects, e-style — abas @ 6:15 am

pertama, anda cukup navigate prompt anda di tempat aplikasi mysql.exe anda disimpan. Selanjutnya anda dapat mengaksesnya dengan mengetik mysql -h <nama host anda> -u <nama user anda> -p <password kalau ada>

lalu anda akan mendapatkan prompt mysql> Jika anda masih belum mengerti atau tidak hafal dengan sintax mysql anda dapat menuliskan help atau /h. Disana anda akan diberikan beberapa pilihan yang dapat anda cari lebih jauh. Cara lain adalah dengan mengetikkan sintax yang anda tidak mengerti dengan menuliskan help <sintax> lalu tekan enter.

Dari command prompt ini, anda dapat mencoba beberapa script yang anda perlu gunakan atau untuk mengakses database yang anda inginkan melalui command prompt.

fin

Blog pada WordPress.com.